Thursday, 17 June 2010

Jangan Ceraikan Tiga Saudara Kembarmu

Oleh Abdul Mutaqin

Kesenjangan dalam keberagamaan antara tataran normatif dengan praksis di medan hidup semakin nampak menggila. Iman, Islam dan Ihsan yang diformulasikan dalam bentuk ritual ibadah, zikir dan tafakkur tidak dipantulkan bayangannya dalam segmen kehidupan. Iman, Islam dan Ihsan menjadi pohon angker yang tak berbuah manis, tapi pahit dan getir. Iman sebatas simbol. Islam tidak dimaknai lebih dari sekedar pelengkap informasi KTP. Adapun Ihsan jauh terasing di seberang tingkah laku yang sekedar menoleh pun enggan. Ketiganya seolah asing satu sama lain untuk bertegur sapa. Subhanallaah wa Alhamdulilah wa Allahu Akbar, semoga tidak semua demikian. Masih banyak mukmin muslim muhsin sejati.

Di medan hidup kita bisa tidak habis pikir. Jangan heran berlebihan apabila menjumpai orang sudah berpeci putih, jamaah dan ta’limnya rajin tapi sampai hati memperlakukan anak dan isterinya sangat tidak santun. Jangan juga terbelalak, apabila mendengar publik figur yang dikenal alim tetapi meringkuk di penjara gara-gara tersandung urusan korupsi. Dan jangan juga terlalu sakit hati melihat polah tingkah segelintir artis yang begitu sumringahnya membuka aurat padahal seminggu sebelumnya baru pulang dari umroh. Seolah-olah umroh adalah umroh dan pesta pora membuka aurat adalah soal lain.

Saya teringat sebuah cerita imajiner; Cendil dan kisah seorang pelacur yang rajin tahajjud. Cerita yang menampilkan realitas hidup sesungguhnya di zaman yang semakin renta ini. Dunia yang semakin peot dengan debu peradaban memang terlihat semakin cantik dengan kosmetik teknologi modern. Dengan teknologinya pula, banyak seorang muslim tidak sadar telah memisahkan tiga saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ihsan.

Islam satu substansi tata nilai, iman sebuah substansi, ihsan juga sebuah substansi, dan seorang muslim adalah substansi yang lain. Allah menghendaki, keterpautan yang utuh antara Iman, Islam dan Ihsan. Ketiganya menjadi pilar yang harus diamalkan sebagai jalan hidup bagi setiap orang yang berikrar sebagai muslim. Semestinya memang, antara substani tata nilai dangan kepribadian adalah menyatu. Seperti menyatunya Iman, Islam dan Ihsan pada diri Rasulullah SAW, para sahabat ra. dan orang-orang sesudahnya yang taat kepada-Nya.

Pada titik tertentu, begitu banyak orang menyalahkan Islam sebagai agama yang gagal menjadikan ummatnya menjadi manusia arif. Maraknya korupsi, kekerasan, kawin-cerai dan beberapa perilaku menyimpang, dijadikan sebagai amunisi untuk merusak citra Islam. Ya, karena banyak dari para aktor keburukan adalah jelas-jelas muslim. Baik KTP dan bayangan zahirnya yang kasat mata. Jadilah Islam itu dirusak oleh pemeluknya sendiri. Keindahan Islam justeru ditimbun oleh ”sampah” kemaksiatan oknum muslim itu sendiri. Benarlah ungkapan ”Al Islaam mahjuubun bilmuslimiin”. Padahal masalahnya bukan pada Islamnya, tetapi lebih kepada substansi pribadi muslim yang enggan menjadikan Islam itu sebagai jalan hidup yang kaaffah yang dilandasi Iman dan dihiasi Ihsannya. Tetapi para phobi Islam itu, mana mau peduli? Salahnya kita mengapa berbaik hati memberikan peluru kepada musuh sendiri.

Malapetaka dan fitnah adalah buah apabila ketiganya diceraiberaikan. Iman tanpa Islam seperti mimpi. Islam tanpa Iman seperti bungkusan cantik tanpa isi. Iman dan Islam tanpa Ihsan kaku dan rigid. Maka menjadi mafhumlah kita, mengapa sering kali Al-Qur’an menyeru iman bergandengan dengan amal salih.

Memang terasa ganjil, apabila seorang yang khusyu ketika di masjid, tetapi menjadi penipu ketika di pasar. Berulang kali ke tanah suci, tetapi mendekam di penjara karena kasus korupsi. Ringan hati membeli perabot rumah yang mahal-mahal dan hampir tidak perlu kecuali sebatas aksesoris, tetangga sebelahnya kelaparan. Meskipun hanya sebungkus nasi warteg untuk mereka, berat tangan digerakkan. Padahal kesehariannya mengenakan sorban dan mengapit biji-biji tasbih. Mengapa terjadi? Ya, karena mereka sampai hati dan tega memisahkan tiga saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ihsan.

Atau seperti cerita seorang ”wanita nakal” dan laki-laki ”belang” setengah baya yang berbisik setelah mereka kelelahan menghabiskan separuh malam. Di ruang privat mereka asik masyuk mengkhianati bangunan rumah tangganya. Membuang janji suci perkawinannya ke keranjang sampah kedustaan. Dan melukai panggilan hormat anak-anak dan pasangannya. Dengan keringat masih mengkilat di sekujur tubuh mereka, si wanita berujar :

”Om, apakah Om sudah puas? Kalau sudah Saya hendak pamit”. ”Mau kemana?”, sahut tamunya itu malas-malasan sambil tangan dan kakinya masih mengapit tubuh wanita itu erat.

”Saya mau mandi junub dan tahajjud. Ini adalah waktu sepertiga malam. Waktu yang tepat untuk munajat. Mudah-mudahan do’a saya didengar dan dikabul”.

“Oh ya, nanti tolong juga sampaikan amplop coklat di meja rias itu untuk anak-anak yatim di kompleksmu. Yang warna pink untukmu. Saya ingin istirahat tidur”.

Naudzubillah. Jangan kaget lagi, itu hanya cerita imajiner yang saya reka. Sekedar selingan melepas lelah setelah membaca naskah ilmiah atau artikel yang memeras otak.

Bagaimana jadinya jika cerita imajiner itu adalah nyata terjadi dan bukan sekedar imajinasi nakal? Itu soal lain. Dan beredarnya video mesum adalah jawaban konkretnya. Jika mereka para pelakon birahi itu adalah muslim, itulah muslim yang tega memisahkan tiga saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ishan.

Kita juga pasti termangu mendengar rumah-rumah sebagian wanita di kempleks pelacuran yang konon di dinding-dinding rumahnya terpajang kaligrafi Al-Qur’an. Pada jendelanya bergayut sajadah dan mukena. Belum tentu juga laki-laki yang tidur di pelukannya adalah laki-laki dari komunitas rendahan. Belum tentu. Bahkan banyak di antara mereka adalah orang-orang yang berteduh di bawah payung strata sosial terhormat. Dihormati keluarga dan masyarakat dan bekerja pada lembaga terhormat pula. Why? Ya, karena mereka sampai hati dan tega memisahkan tiga saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ihsan.

Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: ”Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Soal kasus video mesum sangat melelahkan moral dan akhlak bangsa kita. Mau jadi apa anak dan generasi kita ke depan? Ribuan Anak sekolah melihatnya tanpa malu-malu kucing. Orang tua mereka berbaik hati telah memberinya handphone. Orang tua tidak sadar bahwa ia telah menampar pipinya sendiri dengan pemberiannya itu. Media turut andil membuka kran informasi dan memblowup kasus birahi ini saban hari. Maka anak-anak yang tinggal di pegunungan turun gunung. Anak-anak yang tinggal di pantai dan di tepian sungai mengarungi laut dan menyebarangi sungai. Anak-anak yang tinggal di bibir hutan menerobos belukar dan belantara. Mereka berhamburan hanya untuk mencari warnet di perkotaan agar bisa mengunduh video yang disiarkan televisi. Atau jika gaptek, pasti akan ada cara lain untuk mendapatkannya. Yang penting rasa ingin tahunya dari televisi bisa terpuaskan.

What children see, children do. Ungkapan ini membuat para orang tua berbesar hati. Anak-anak rajin salat, ngaji, berdo’a, puasa dan bersedekah sebab awalnya melihat sekelilingnya berbuat demikian. Karena mereka melihat ayah-ibu taat beribadah, menikmati hiburan ibadah, membaca buku-buku ibadah, begaul dengan teman taat ibadah, bersekolah di lembaga yang menumbuhkan rajin ibadah dan menetap di lingkungan yang taat beribadah. Maka para orang tua berbesar hati. Kelak ketika mereka telah tiada, anaknya setia mendo’akan untuknya. Mengalirlah pahala ketaatan anak-anak mereka dari jerih payah telah mendidiknya dengan atmosfir ketaatan. Sejuk, terang dan lapang kubur mereka.

What children see, children do. Ungkapan ini sungguh membuat dada kita berguncang. Anak-anak terbiasa meninggalkan salat, malu mengaji, acuh dalam berdo’a, asing dengan puasa dan bersedekah sebab awalnya melihat sekelilingnya berbuat demikian. Karena mereka melihat ayah-ibu tidak beribadah, menikmati hiburan cabul dan porno, membaca buku-buku cabul dan porno, begaul dengan teman cabul dan porno, bersekolah di lembaga yang tidak peka dengan hal-hal cabul dan porno serta tinggal di tengah-tengah komunitas penikmat video cabul dan porno. Maka para orang tua tidak punya harapan. Kelak ketika mereka telah tiada, anaknya tak sanggup sebait pun mendo’akan untuknya. Mengalirlah kedurhakaan anak-anak mereka sebab telah lalai mendidiknya dengan atmosfir kedurhakaan. Panas, gelap dan sempit kubur mereka.

Alasan koleksi pribadi yang dibocorkan tentu masuk akal. Alasan ada pihak lain yang membocorkan dan melemparnya hingga ke tangan anak-anak yang belum balig juga masuk akal. Yang tidak masuk akal apabila pelakunya masih memiliki saudara kembar, Iman, Islam dan Ihsan. Tetapi apa yang mereka ”pertontonkan” itu menjadi masuk akal oleh karena ketiga saudara kembarnya yang setia melindungi diri mereka dari kehancuran dan kenistaan telah dipisahkan dari dirinya. Sebab ketiga saudara kembar itu adalah elemen paling keras yang menentang segala bentuk kedurhakaan.

Bila aktornya sudah memiliki pasangan yang sah, semakin menunjukkan bahwa dahaga birahi memang tidak pernah bisa dicukupi. Merekalah perusak sakralitas perkawinan dan bangunan sakiinah, mawaddah dan rahmah, tujuan rumah tangga pengikat mitsaqan ghaliizha. Mengapa mereka seolah tak merasa cukup dengan pasangan pilihan Allah untuknya? Ya, karena mereka sampai hati dan tega memisahkan tiga saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ihsan. Pilihan Allah ditukarnya dengan pilihan Al A’war laknatullah.

Bila aktornya adalah gadis dan jejaka, mereka telah salah menerjemahakan cinta dan kasih sayang. Cinta bukanlah kuda liar yang dibiarkan berlari ke mana ia suka tanpa tali kekang. Sayang mereka membuang tali kekang nafsunya. Itulah yang terjadi. Mereka lupa bahwa telah menggali jurang untuk dirinya dan banyak orang. Mereka tidak sadar telah mendorong mental-mental generasi anak orang yang polos ke lubang kehancuran mental. Mereka lumuri fitrah anak beranak dengan kotoran zina. Durasi enam menit adegan jorok yang mereka lihat, seumur hidup akan melekat dan mereka bawa sampai mati. Celaka, celaka dan celaka, apabila durasi enam menit itu menjadi inspirasi untuk meniru apa yang mereka lihat. What children see, children do. Merebaklah perzinahan. Dan dosa pun beranak pinak.

“... Dan barangsiapa yang memberi contoh keburukan, hal yang nengatif, kerusakan, maka baginya dosa, dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikit pun dosa orang yang mengikutinya.” (HR. Imam Muslim)

Dalam penomena hidup, berpasangan adalah keseimbangan. Kita percaya itu. Laki-laki dan perempuan. Ada baik ada buruk. Bagus-jelek. Kaya-miskin. Amanah-khianat. Soleh-durhaka dan seterusnya. Tetapi soal berpasangan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks jodoh dan pasangan hidup saya tidak percaya. Saya lebih percaya pada firman Allah:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)".(terjemah QS. An Nuur [24] :26)

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin". (terjemah QS. An Nuur [24] :3)

Di mana posisi kita?

Setiap laki-laki dan wanita yang masih memiliki tiga saudara kembar itu, pasti tidak akan pernah melakukannya. Juga tidak akan pernah sanggup sekedar “menonton”nya. Malu, malu dan malu. Malu kepada saudara kembarnya; Iman, Islam dan Ihsannya. Malu kepada anak-anak Dan kepada mereka laki-laki dan wanita baik-baik telah dituliskan pasangannya yang baik-baik pula.

Namun di balik itu, para pezina harus ditolong. Para pencuri atau koruptor harus ditolong. Begitu juga para pemabuk, mereka harus ditolong. Jika kita bingung mengapa mereka harus ditolong, tidak usah. Dulu para sahabat juga bingung ketika Nabi meminta mereka mnyuruh menolong orang zalim. Setahu mereka dan kita, orang yang dizalimi lah yang harus ditolong. Lalu untuk apa dan bagaimana harus menolong para pelaku zalim?

Menolong pelaku zalim adalah memutus rantai kezalimannya. Mencegahnya dari berlaku zalim yang berulang-ulang dan mencegah dampak buruk kezalimannya semakin meluas. Semakin sempit dampak perbuatan zalimnya, sedikit pula efek dosa yang ditanggungnya. Lalu kita tidak membayangkan, jika perbuatan zalim itu berdampak sangat luas. Dilihat, disaksikan dan dirasakan orang se-Indonesia. Seluas itu pula beban dosa yang akan dipikulnya bukan? Tolong mereka, meski harus dengan menegakkan hukuman atasnya. Bagi para pelaku, terimalah hukuman itu sebagai bagian dari upaya menolong kalian sendiri. Sanggup?

Jangan pernah menceraikan Iman, Islam dan Ihsan dalam hidup. Ketiganya ibarat teks saat berbicara dan menjadi energi saat berperilaku. Wariskan ketiganya pada anak-anak kita. Semoga jasad dan perilaku kita adalah gambar dan rupa dari kreasi ketiganya. Allahu a’lam.

Friday, 18 December 2009

Jagalah Kehormatanmu, Wahai Ukhti….

Menjadi laki-laki atau perempuan memang bukan pilihan kita. Tetapi menjadi laki-laki yang baik atau buruk adalah sebuah pilihan dalam genggaman kita. Terlebih-lebih bagi perempuan, mau menjadi wanita shalihat atau ahli maksiat adalah pilihan yang harus diambil.

Dalam setiap tayangan TiVi, dapat dipastikan bahwa wanita senantiasa menghiasi semua program. Iklan-iklanpun bertaburan bintang-bintang wanita sekalipun barang yang dijual tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita. Wanita sudah menjadi bagian penting dalam promosi, bahkan komoditi itu sendiri.

Tak jarang, wanita-wanita seperti ini menjadikan profesi bintang publikasi sebagai cita-cita dan tujuan hidupnya karena dengannya popularitas dapat diraih dan duitpun menumpuk di kantong. Untuk mencapai tujuannya ini tak jarang mereka menggunakan segala cara. Tubuh yang Allah anugerahkan untuk dijaga kehormatan dan ditutupi auratnya justru dieksploitasi habis-habisan. Tak sedikit yang kemudian menggadaikannya…

Duhai diri, apa yang akan kau sampaikan di hadapan Rabbmu di hari pengadilan nanti?

Ketika lidah dikunci dan setiap helai rambut menjadi saksi? Tatkala lisan tak berfungsi dan setiap degup hati dimintai pertanggungjawaban?

Itulah sebabnya menjadi wanita shalihat adalah sebuah keharusan. Karena wanita shalihat akan menjadi ibu shalihat dan ibu shalihat saja yang akan melahirkan generasi shalih dan shalihat. Dan hanya generasi shalih-shalihat yang mampu menjadikan dunia seisinya aman dan sentausa dalam ridla Allah SWT.

Oleh karena itu saudariku, tutuplah auratmu agar tak ada mata yang menjadi liar karenanya. Tutuplah dengan sempurna agar tak ada celah bagi setan untuk membeliakkan mata saudara-saudara kita. Lindungi aurat kita dengan santun dan mulia. Bukan ditutup tapi ditonjolkan. Bukan ditutup tapi diketatkan. Bukan ditutup tapi dibelah tinggi.

Tolonglah saudara-saudara lelaki kita agar teduh mata hatinya….

Duhai diri, tak cukup hanya menjilbabi fisikmu. Wajah cantik muslimah pun menggugah selera. Teduhkan wajahmu dengan malu kepada Allah SWT agar setiap senyummu menjadi sedekah, bukan penghias mimpi para jejaka. Jadikan lantunan suaramu sebagai tadzkirah bukan penghias telinga yang membuai para pendengarmu. Setiap sepak terjangmu jadikan jihad di jalanNYA agar barakah setiap amalmu. Siapapun kelak yang menjadi suamimu adalah mukmin shalih yang engkau percayakan sepenuhnya di tangan Rabbmu..

Wahai saudariku muslimah, jagalah kehormatanmu dan bersiaplah menyongsong dunia yang penuh persaingan!

Berjilbab bukanlah halangan untuk maju! Aisyah ra adalah contoh nyata bahwa hijab tidak menghalangi beliau sebagai guru para sahabat radliyyallaahu anhum. Ketinggian ilmu Bunda Aisyah tidak ada tandingannya. Shahabiyah yang lainpun menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang kegemilangan Islam. Semuanya dilakukan dengan elegan, bermartabat dan berkualitas. Bukan dengan cara pintas yang menggadaikan harkat dan jati diri kita.

Wahai Ukhti shalihat, melesatlah ke depan memimpin kaum wanita karena di tanganmulah nasib bangsa ini ditentukan melalui generasi yang akan engkau lahirkan. Yakinlah bahwa setiap insan yang terlahir dari rahimmu adalah khalifah yang dinanti oleh dunia yang tengah sekarat ini….

Sumber: Era muslim

Renungan pergantian tahun Islam untuk kita

Akar dan orientasi kultur masyarakat barat adalah materialisme. Mereka menilai dan membuat indikator hidup dari sisi materialistis. Atas dasar ini tidak mengherankan jika mereka mempunyai ungkapan bahwa 'hidup' dimulai dari umur 40, life begin at 40.

Asumsinya adalah pada umur ini, karir telah cukup mapan, pendapatan, serta kekayaan telah mencukupi. Karena itu, sering pula pada umur 40 tahun ini dikaitkan dengan puber kedua, yang membawa pada perselingkuhan. Kemapanan materi membawa godaan, sehingga umur 40 tahun merupakan saat kritis terjadi perceraian dalam rumah tangga.

Islam memberi perhatian pada umur 40 berbeda secara diametrikal dengan budaya barat. Umur 40 mendapat perhatian khusus dari Al-Qur'an. Dalam Surat Al Ahqaf (46) ayat 15 Allah berfirman :

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa : " Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Kau berikan kepadaku, dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesunggguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."


Dalam surat tersebut setidaknya terdapat empat indikator kemuliaan manusia yang seharusnya menjadi identitas orang yang mencapai umur 40 tahun, yaitu : bersyukur, bertaubat, beramal shalih, dan berserah diri.

Bersyukur kepada Allah atas karunia umur yang menghantarkannya mencapai angka 40. Bersyukur atas kenikmatan hidup yang telah dianugerahkan Allah, baik berupa kenikmatan material maupun nikmat anak keturunan (dzuriyat). Bersyukur sesuai hakikat bahwa semuanya karena kehendak yang mengikuti nilai-nilai kebaikan yang dikehendaki Allah dan dicontohkan dalam kehidupan Rasul dan para sahabat.

Bertobat disertai kesadaran bahwa manusia mempunyai kalbu yang berbolak balik antara tarikan kebaikan dan keburukan.. Bertobat disertai perenungan dan perhitungan apakah di usia 40 tahun lebih berat kebaikannya atau keburukannya. Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadistnya,

"Sesiapa yang mencapai umur 40 tahun dan dosanya lebih berat dari amal baiknya maka bersiaplah memasuki neraka."

Berserah diri, merupakan permulaan yang pas untuk menapaki usia 40 tahun. Dengan demikian umur 40 tahun dipandang sebagai pencerahan kejiwaan, gerbang cahaya menuju kehidupan yang lebih mulia.

Disamping itu juga usia 40 tahun berarti jatah usia kita sudah berkurang. meskipun secara kuantitatif usia kita bertambah. Artinya seandainya jatah usia kita 50 tahun, maka hidup kita tinggal 10 tahun, atau jika jatah usia kita 60 tahun, maka kita tinggal menghitung sendiri, berapa lama kita hidup lagi. Dan seterusnya.


Aneh jika sebagian kita merayakan ulang tahun dengan bangga bernyanyi ria "panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia". Seharusnya kita introspeksi bahwa, jatah usia kita semakin berkurang dan nilai-nilai kemuliaan harus dijadikan barometer dalam beramal.. Wallahu a'lam.

Saturday, 12 December 2009

Hari ini adalah tepat hari kelahiranku tgl 12 Des tepat usiaku 39 th dan akan memasuki usia 40 th , jauh dari sanak dan family , hanya ucapan dan doa dari istri dan anak anak tercinta. hampir tiga tahun aku lalui hari ulang tahun ku tanpa kehadiran istri dan anak anaku, tapi itulah resiko yang harus kulalui ketika aku memilih bekerja di Luar negeri. Memang dari segi financial tercukupi tapi ada suatu kehampaan hati ketika kerinduan akan istri n anak2 ku tiba2 hinggap di alam pikiranku. Ternyata memang uang bukan segalanya bagi orang yg sudah berkecukupan, berbeda dengan org yang masih kekurangan dia akan tetap mencari yang namanya uang dengan meninggalkan keluarganya. Sebetulnya aku bisa membawa keluargaku tapi terbentur dengan sekolah anak2 ku.
Ya ALLAH mudah2 an kami bisa berkumpul kembali seperti waktu dulu.
Aku adalah orang Cilegon yang sekarang merantau di negeri orang tepatnya di Abudhabi UAE.
Baru 2 th ini aq merantau jauh dari tempat kelahiranku. Bekerja satu tahun di YANSAB Saudi arabia kemudian pindah ke Abudhabi tepatnya di Ruwais , sebuah kawasan industri 250 km jaunya dari Abudhabi.Disini kulturnya lebih terbuka seperti di Indonesia.Saya merasa senang Bekerja dan tinggal disini.